Di Balik Ruang Operasi
Hari itu menjadi hari paling gelisah dalam 24 tahun hidupku. Siang itu aku baru saja pulang dari rumah sakit di Bengkulu ketika dokter Obgyn-ku menyampaikan kabar dengan hati-hati yang membuat nafasku berhembus tak teratur.
“Bu, untuk meminimalisir risiko besok pagi harus segera dilakukan tindakan, ibu bisa langsung ke IGD malam ini”
Kalimat itu masih bergema di kepalaku bahkan setelah aku keluar dari ruang periksa. Bingung, takut, dan berbagai perasaan yang sulit dijelaskan menyelimuti siang itu. Semua terasa begitu cepat, seakan aku tidak diberi cukup waktu untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Sesampainya di rumah yang masih berantakan karna proses renovasi aku duduk diam di sofa. Mencoba mengatur napas sebaik mungkin, menenangkan diri yang sejak tadi terasa berdebar. Sementara itu di sekelilingku, ibuku, ibu mertuaku, adikku, ayuk ipar, dan suamiku sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawa.
Sore itu juga kami harus berangkat ke Lubuklinggau.
Ya, besok pagi aku akan menjalani operasi. Bersama dokter yang bahkan belum pernah kutemui sebelumnya.
Sembilan bulan terakhir terasa seperti perjalanan panjang yang penuh cerita. Tidak selalu mudah. Banyak harapan, banyak persiapan, dan tentu saja banyak doa. Operasi sebenarnya adalah pilihan terakhir yang kupikirkan setelah berbagai keputusan penting harus diambil. Namun pada akhirnya, aku menyadari satu hal: ada hal-hal dalam hidup yang memang sudah ditetapkan untuk terjadi, tanpa bisa kita tawar atau negosiasikan dengan Yang Maha Kuasa.
Di perjalanan menuju Lubuklinggau, aku diam-diam memperhatikan suamiku yang sedang menyetir. Wajahnya tampak tenang, tetapi dari sorot matanya aku tahu ada kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan. Malam itu kami tidak banyak berbicara.
Sekitar pukul 23.00 WIB, kami akhirnya tiba di rumah sakit. Tubuh kami semua terasa lelah. Perjalanan panjang itu terjadi tanpa rencana sebelumnya. Malam itu juga, untuk pertama kalinya selama 24 tahun hidupku, aku dipasang infus. Rasanya tidak terlalu sakit seperti yang kubayangkan. Beberapa saat kemudian, seorang perawat masuk ke ruang IGD.
“Ibu Epri, operasi akan kita laksanakan besok pagi pukul 06.30 WIB bersama dr. Fajriman Jasman, SP.OG.”
Aku menghela napas panjang, begitu cepat, pikirku dalam hati.
Semua berjalan sangat tiba-tiba. Bahkan aku belum sempat mencerna satu per satu kenyataan yang sedang terjadi. Malam itu berlalu dengan serangkaian pemeriksaan medis. Syukurlah semuanya berjalan baik. Aku mencoba meneguhkan diri, menguatkan tubuh dan hatiku untuk menerima setiap proses yang harus kulalui dalam persalinan sesar ini.
“Istirahatlah yuk tidur, Minum air putih dulu, sebentar lagi ayuk puaso.”
Ibuku berkata lembut. Ia tampak sangat memahami kegelisahanku malam itu. Mungkin ia teringat bagaimana dulu ia melahirkanku 24 tahun yang lalu dengan metode yang sama.
Sementara itu suamiku sibuk mengurus semua logistik, administrasi rumah sakit dan persiapan untuk sahur nanti. Aku sempat mengkhawatirkan keadaannya. Aku tahu hari itu pasti sangat berat baginya. Hampir tidak ada jeda bagi dirinya untuk beristirahat.
Pukul 04.30 WIB aku bangun untuk mandi. Air yang mengalir di tubuhku seolah membantu menenangkan pikiran. Aku ingin mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Sholat Subuh pagi itu terasa berbeda. Mungkin itu adalah sholat Subuh paling tenang yang pernah kurasakan. Perlahan aku mulai menerima semuanya. Aku mulai ikhlas menjalani apa pun yang akan terjadi nanti.
Pukul 05.30 WIB aku diantar ke ruang transit sebelum masuk ke ruang operasi. Di sana tiba-tiba tubuhku menggigil kedinginan. Entah karena suhu ruangan atau karena perasaan yang bercampur menjadi satu.
Suamiku menggenggam tanganku erat.
Ia mencoba menenangkanku. Kami berbicara ringan, bahkan sempat bercanda kecil. Lelucon-lelucon sederhana itu entah bagaimana membuat pagi itu terasa lebih hangat. Tiba-tiba seorang perawat masuk ke ruangan.
“Ibu Epri, kita masuk ruang operasi ya. Suaminya bisa menunggu di depan.”
Aku dan suamiku saling berpandangan. Kami berpamitan. Sebuah jabat tangan dan kecupan hangat di kening membuatku sedikit lebih kuat.
Ketika pintu ruang operasi terbuka, hawa dinginnya langsung menusuk tulang. Ruangan itu sangat dingin. Bibirku gemetar. Tubuhku menggigil.
Lampu-lampu besar di langit-langit menyala sangat terang hingga setiap sudut ruangan terlihat jelas di mataku. Beberapa perawat mulai mendekat. Mereka berbicara dengan suara pelan namun sigap, seolah semua sudah menjadi rutinitas yang sangat biasa bagi mereka, meskipun bagiku ini adalah momen yang sangat luar biasa.
Salah satu perawat menepuk bahuku dengan lembut.
“Tenang ya, Bu. Semua akan berjalan baik, Tarik napas panjang lewat hidung, lalu keluarkan perlahan lewat mulut.”
Sebuah jarum kecil kemudian menembus tulang belakangku. Anestesi ERACS (Enhanced Recovery After Caesarean Surgery), begitu mereka menyebutnya. Ternyata tidak semenakutkan yang kubayangkan. Rasanya bahkan lebih ringan dibandingkan saat dipasang infus.
Kemudian dokter datang. Wajahnya terlihat ramah, membuat sedikit rasa tenang di tengah kegugupanku.
“Selamat pagi, Bu Epri baru sampai dari Bengkulu tadi malam ya? Saya baca kartu kontrolnya ibu biasa periksa dengan dr.Dian?”
Aku menjawab sambil beberapa perawat menyiapkan perlengkapan.
“Betul dok, selama 9 bulan terakhir rutin kontrol sama dr. Dian, Qodarullah akhirnya lahiran di Lubuklinggau.”
Dokter tersenyum
“Tidak apa-apa. Lahiran di Bengkulu ataupun di Lubuklinggau sama saja. Yang penting ibu dan bayinya sehat. Baik, Bu Epri … Bismillah, kita mulai ya. Selama proses berlangsung ibu bisa sambil berdoa.”
Proses persiapan berlangsung cepat. Tubuhku diposisikan dengan hati-hati. Beberapa alat dipasang. Tirai operasi dibentangkan di depanku sehingga aku tidak bisa melihat proses yang sedang berlangsung.
Aku mencoba mengingat kembali doa-doa yang selama ini sering kupanjatkan.
Ya Allah, kuatkan aku. Lindungi anakku
Ruangan itu tiba-tiba terasa hening. Aku bisa merasakan dokter dan tim medis bekerja di balik tirai. Ada sensasi ditarik dan ditekan, tetapi tidak terasa sakit. Hanya perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Di tengah keheningan itu, pikiranku melayang ke perjalanan sembilan bulan ke belakang. Air mataku jatuh perlahan tanpa aba-aba. Aku teringat salah satu momen penting: saat kami memilih nama untuk anak kami. Suatu malam sepulang kerja, dengan wajah lelah namun penuh semangat, suamiku berkata,
“Mas ada opsi nama buat adek nanti.”
“Apa?” tanyaku penuh antusias. Sejujurnya aku sudah cukup lama mencari nama yang baik untuk anak kami, tetapi belum menemukan yang benar-benar terasa tepat.
“Namanya Ibrahim. Kita bisa panggil adek Baim.”
Aku tersenyum. Entah kenapa nama itu terasa hangat dan dekat.
“Terinspirasi dari mana?” tanyaku.
“Mas dengar ceramah di masjid tentang kisah Nabi Ibrahim. Kisah yang bagus untuk jadi teladan. Tiba-tiba mas kepikiran memberi nama itu untuk adek.”
Aku mengangguk paham sekaligus bahagia. Kebetulan kakekku di rumah juga bernama Ibrahim. Anak ini kelak akan menjadi penerus nama kakeknya.
Kenangan itu membuat waktu terasa berjalan cepat.
Tiba-tiba dokter berkata,
“Sebentar lagi selesai ya, Bu.”
Doa-doa tak henti kuucapkan dalam hati.
“Ibu akan menjaga Ibrahim seumur hidup ibu. Ibu akan menyayangi Ibrahim seumur hidup ibu.”
Aku mengulanginya berkali-kali.
Lalu…
Tangisan itu terdengar.
Tangisan pertama yang begitu nyaring memenuhi seluruh ruangan operasi. Air mataku langsung jatuh tanpa bisa kutahan. Tangisan itu adalah suara paling indah yang pernah kudengar sepanjang hidupku.
“Selamat ya, Bu. Bayinya laki-laki sudah lahir di hari ke-7 Ramadhan”
Seorang perawat memperlihatkan bayi kecil itu kepadaku. Tubuhnya masih merah, matanya terpejam, tangannya kecil mengepal. Aku menatapnya dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Sembilan bulan penantian.
Sembilan bulan doa.
Sembilan bulan harapan.
Semua terjawab dalam satu tangisan kecil itu.
“Bayinya sehat,” kata dokter lagi.
Aku menghela napas panjang, seolah seluruh beban yang sejak tadi menekan dadaku perlahan terlepas. Air mataku terus mengalir. Bukan karena sakit. Tapi karena bahagia yang begitu besar. Saat itu aku sadar, semua rasa takut semalam, semua kegelisahan di perjalanan, semua doa yang kupanjatkan dalam sholat subuh pagi tadi semuanya mengantarkanku pada satu momen ini.
Momen ketika untuk pertama kalinya aku menjadi seorang ibu.
“Siapa namanya, Bu?” tanya dokter.
Dengan suara yang masih bergetar aku menjawab,
“Ibrahim, Dok… namanya Senne Maliq Ibrahim.”

Komentar
Posting Komentar